Secangkir Kopi Raudah
Nama: Ricky Febrian
Kelas: XII.4
Absen: 29
Paragraf deskripsi:
“Pantai sepi. Angin tipis dan kemudian menghilang di dedaunan. Sementara itu langit sebelah barat semakin merona merah. Air laut berkilau keemasan. Dan, masih terlihat sekelompok burung camar berterbangan di atas permukaan air mengintai ikan-ikan kecil. Kadang burung-burung itu terbang mendekat ke pantai, kadang menjauh sehingga terlihat seperti titik hitam yang berpindah-pindah. Ada juga perahu nelayan, di beberapa tempat, mengayun sesuai dengan irama gelombang air. Walaupun senja akan bermula tapi cahaya matahari masih sempurna sehingga menyilaukan mata dan membuat perih di kulit.”Paragraf narasi:
“Matahari telah tenggelam sepenuhnya saat aku menapaki halaman rumah Emak Limah. Dari teras rumah, aku dapat melihat cahaya lampu tempel melalui cela dinding palupuah itu. Ada bayangan orang yang sedang melintas menuju pintu. Sepertinya orang yang ada di dalam rumah sudah mengetahui keberadaan tamunya. Mencicit pintu tua itu dibuka. Dan, seorang perempuan muda, Raudah, masih mengenakan mukena—mungkin usai salat Magrib, sudah berdiri di pinggir pintu.”
“Matahari telah tenggelam sepenuhnya saat aku menapaki halaman rumah Emak Limah. Dari teras rumah, aku dapat melihat cahaya lampu tempel melalui cela dinding palupuah itu. Ada bayangan orang yang sedang melintas menuju pintu. Sepertinya orang yang ada di dalam rumah sudah mengetahui keberadaan tamunya. Mencicit pintu tua itu dibuka. Dan, seorang perempuan muda, Raudah, masih mengenakan mukena—mungkin usai salat Magrib, sudah berdiri di pinggir pintu.”
Komentar
Posting Komentar